Kamis, 18 Juli 2013

menara syah bandar beraksitektur kolonial

I.PENDAHULUAN
Latar Belakang Sejarah:

"Dari sinilah kapal yang akan berlabuh diamati dan diberi tanda", demikian tulis Adolf Heuken dalam buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta.

Gambar 1. Menara Syahbandar
Sumber : jakartapunyasouvenir.blogspot.com

Menara Syahbandar disebut juga Uitkljk, Uitkijk Post berada di tepi barat muara Ciliwung, tepatnya terletak di Jl. Pasar Ikan No.1, Jakarta. Disebut sebagai De Uitkijk atau menara peninjau, karena menara ini memantau seluruh wilayah baik ke arah Pelabuhan Sunda Kelapa dan laut lepas di sebelah utara maupun ke arah Kota Batavia di sebelah selatannya dan juga karena Menara Syahbandar (Uitkijk) didirikan menggantikan tiang bendera lama yang berlokasi di Galangan Kapal VOC. Fungsi dari tiang bendera ini adalah untuk memberikan tanda-tanda kepada kapal yang akan berlabuh di Sunda Kelapa, tetapi sekaligus sebagai menara pengawas, baik wilayah laut maupun darat.

Gambar 2. Peta Batavia
Sumber:http://bataviadigital.pnri.go.id

Gambar 3.poto udara

Gambar 4. Plank Nama menara Syahbandar merupakan bagian dari Museum Bahari

Bicara soal Menara Syahbandar, maka tak bisa lepas dari Bastion Culemborg. Bastion atau kubu pertahanan ini dibangun jauh lebih dulu yaitu tahun 1645 dan merupakan bagian dari tembok Kota Batavia. Culemborg tak lain nama kota kelahiran Gubernur Jenderal van Diemen (1593-1645). Di dalam kubu inilah Menara Syahbandar dibangun. Tembok tebal yang merupakan sebuah bastion itu menyatu pada tembok pertahanan Kota Batavia tempo dulu. Pada tembok kokoh itu bersandar dua buah meriam kuno masa lalu. kubu ini menghadap ke arah barat laut Kota Batavia, merupakan pintu masuk Kota Batavia dari laut (Waterpoort). Pada tahun 1808, kubu ini dihancurkan oleh Gubernur Jenderal Daendels, kemudian di atasnya didirikan bangunan menara pengawas yang dikenal juga dengan menara Syahbandar pada tahun 1839.

Gambar 5. Bastion, benteng pertahanan dengan warna kuning pada peta

Sebagai bagian dari perbentengan Belanda, di sinilah letak pintu masuk lorong bawah tanah yang menuju ke Stadhuis (sekarang Museum Sejarah Jakarta) dan Benteng Frederik Hendrik (sekarang Mesjid Istiqlal). Di puncak menara terdapat jendela di empat sisi, untuk mempermudah pengawasan ke segala penjuru. Pada masanya, Menara Syahbandar pernah menjadi bangunan tertinggi di Batavia. Menara Syahbandar tingginya 40 meter untuk mencapai puncaknya terdapat sebuah tangga khusus. Pada tahun 1839 didirikan menara
baru sebagai pengganti menara yang lama. Menara ini kemudian direnovasi bersamaan dengan pemugaran bangunan gudang-gudang yang dijadikan Museum Bahari. Sebelum dipugar pernah dijadikan Kantor Komseko (Komando Sektor Kepolisian) dan pernah pula digunakan sebagai Kantor Museum Bahari.

Gambar 6. Menara Syahbandar sebagai menara pemantau pada masa keemasannya
Sumber : www.dansapar.com

Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai menara pengintai ini juga pernah difungsikan sebagai stasiun meteorologi. Karena dibangun di atas bangunan lain (sebagian Bastion Culemborg), pada kondisi tanah rawa yg labil, lama-kelamaan bangunan bersejarah ini menjadi miring ke arah selatan, sehingga akhirnya dikenal sebagai Menara Miring. Dahulu, apabila berada di ruang paling atas dan sedang bertiup angin kencang atau mobil melintas kencang dibawahnya, menara tersebut akan terasa bergoyang-goyang, sehingga dinamakan juga "Menara Goyang".
Di dalam Menara Syahbandar dapat disaksikan sebuah peninggalan masa silam yang unik, berbentuk lempengan batu bertuliskan huruf Cina, diduga merupakan titik meridian atau titik pusat Kota Batavia. Huruf Cina tersebut berbunyi: Batas Titik. Oleh Gubernur Jakarta pada waktu itu Ali Sadikin pada 7 Juli tahun 1977 ditempatkanlah tugu nol kilometer disini hal ini dapat dilihat pada tugu peresmian yang berada di halaman. Hal ini dapat dilihat dari tulisan P126, yang merupakan titik meridian (pertemuan garis bujur dan garis lintang) Kota Jakarta. Selain itu, tugu ini juga didirikan tepat pada ketinggian 0 meter dari permukaan laut. Hal ini menyatakan bahwa para pedagang Cina di Batavia ikut berbela-sungkawa atas meninggalnya Kaisar Pu Yi di Cina.

Gambar 7. Titik nol
Sumber: matah ati

Gambar 8. Prasasti peresmian oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin

Gambar 9. Menara Syahbandar merupakan bangunan tertinggi pada waktu itu, sehingga sangat tepat dijadikan menara pengawasan.

Setelah pelabuhan Tanjung Priok dibangun pada tahun 1886, fungsi menara ini mulai berkurang. Pada tahun 1926 sampai dengan 1967, menara ini berfungsi sebagai Kantor Syahbandar Pelabuhan Pasar Ikan. Setelah pelabuhan Sunda Kelapa diresmikan pada tahun 1967, maka menara ini tidak lagi dijadikan kegiatan pelabuhan.


II. TELAAH PUSTAKA
Arahan pelestarian Kawasan
1.Arahan pelestarian kawasan

Arahan pelestarian kawasan ditujukan untuk mempertahankan kondisi fisik, ciri khas dan karakter kawasan sebagai kawasan peninggalan sejarah Kolonial di Batavia. Arahan pelestarian di Kawasan Menara Syahbandar secara umum adalah :
a. Penyusunan pedoman desain untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya pendirian bangunan baru dengan desain dan konstruksi yang dinilai tidak selaras dengan bangunan kuno di sekitarnya. Bagi bangunan baru diarahkan agar selaras dengan bangunan kuno di sekitarnya, dengan menyesuaikan ornamen dan bentuk atap mengikuti gaya arsitektur Kolonial.
b. Perlindungan kawasan bersejarah melalui pemberian batasan dan penetapan zona-zona pelestarian khusus. Adanya aturan zonasi ini melindungi kawasan terhadap kemungkinan terjadinya perubahan fungsi serta pembatasan terhadap pendirian bangunan baru yang tidak sesuai dengan aturan.
c. Pelaksanaan hukum dan peraturan pelestarian secara tegas dan adil, pelaksanaan pemberian sanksi bagi yang melanggar, pemberian sanksi yang tegas dan adil diharapkan mampu mengendalikan perubahan kawasan bersejarah.
d. Memberikan insentif berupa keringanan retribusi dan bantuan dana perawatan bangunan, penghargaan bagi masyarakat yang telah berperan aktif dalam kegiatan pelestarian kawasan bersejarah.
e. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat baik pemilik bangunan bersejarah maupun non bersejarah mengenai pentingnya pelestarian kawasan bersejarah, diharapkan melalui penyuluhan ini dapat mengubah cara pandang masyarakat yang semula memandang negatif terhadap pelestarian kawasan.
f. Pemerintah bekerja sama dengan masyarakat dalam melakukan kegiatan pelestarian serta hal – hal lain yang berhubungan dengan perlindungan kawasan dan bangunan bersejarah
g. Pembersihan dan Pengerukan limbah kali disekitar kawasan yang menyebabkan pencemaran udara dan pencemaran saluran air, sehingga fungsi saluran air kembali normal
h. Melakukan sosialisasi pada masyarakat sekitar agar tidak membuang limbah ke saluran air sekitar kawasan.
2. Arahan pelestarian bangunan
Arahan pelestarian bangunan bersejarah di Kawasan Menara Syahbandar dirumuskan berdasarkan pertimbangan faktor penyebab perubahan fisik bangunan bersejarah. Adapun arahan pelestarian bangunan bersejarah di Kawasan Menara Syahbandar adalah sebagai berikut:
a. Penyusunan pedoman tata cara pemeliharaan bangunan kuno-bersejarah termasuk memuat bagian-bagian bangunan yang harus dipertahankan keasliannya. Hal ini bertujuan agar setiap bangunan bersejarah memiliki perlindungan yang jelas, sah dan mengikat sehingga apabila terjadi pergantian kepemilikan bangunan di sekitar Menara (pasar ikan), perubahan fisik bangunan oleh pemilik baru dapat dicegah. Juga dengan pemberian sanksi yang tegas kepada pemilik bangunan yang melakukan perubahan pada bangunan bersejarah.
b. Memberikan informasi yang jelas mengenai pentingnya pelestarian bangunan bersejarah secara rutin kepada masyarakat melalui publikasi atau penyuluhan dan mengajak pemilik bangunan untuk ikut berperan aktif dalam pelestarian bangunan bersejarah di Kawasan.
c. Pemberian insentif kepada pemilik bangunan yang telah berperan serta dalam menjaga kelestarian fisik bangunan dan kawasan, melalui pemberian bantuan dana perawatan bangunan, subsidi atau pemberian keringanan retribusi.
d. Pemberian penghargaan dari pemerintah kepada pemilik bangunan atau masyarakat yang telah berperan aktif dalam pelestarian bangunan bersejarah, penghargaan dapat berupa piagam, publikasi, subsidi untuk pemeliharaan bangunan.
e. Membuat acara – acara bulanan atau tahunan yang berskala nasional untuk promosi kawasan.
f. Pemerintah dapat mengambil alih kepemilikan serta pengelolaan bangunan kuno yang terbengkalai atau pemilik tidak mampu lagi melakukan perawatan.


III. Gambaran Kawasan
I. EKSISTING

Ada 3 ruangan yang ada di dalam menara. Sebuah ruangan di lantai dasar sebagai pintu masuk ke Menara Syahbandar, sebuah ruangan di bagian tengah merupakan bangunan kosong dengan lebar kurang lebih 6x7 meter, dan sebuah ruangan lagi di bagian atas sebagai ruang pengamatan yang dilengkapi dengan empat jendela. Di bagian bawah lantai dasar, terdapat ruangan yang dulunya digunakan sebagai penjara yaitu ruang tahanan bagi awak kapal yang melanggar peraturan. Sesuai dengan fungsinya, di sekitar Menara Syahbandar terdapat tujuh meriam. Tiga diantaranya mengarah ke Pasar Ikan.

Gambar 10. Struktur ruang secara vertikal bangunan Menara Syahbandar

Gambar 11. Dekat pintu masuk area Menara Syahbandar terdapat meriam kuno yang menghadap kawasan pasar ikan.

Di sekitar menara terdapat bangunan lain, yaitu sebuah gedung yang dulunya dipakai untuk kantor urusan perdagangan, bangunan yang difungsikan sebagai gudang tepat di depan menara, dan bangunan di samping menara yang dulunya digunakan untuk urusan pabean yang tingginya 18 meter dengan luas bangunan 10x6 meter.

Gambar 12. Bangunan gudang berhadapan dengan menara

Selain peninggalan sejarah, pemandangan di kawasan ini juga sangat indah. Apalagi, jika berada di bagian atas menara, tepatnya di ruang pengamatan. Setelah memanjat beberapa anak tangga dan mencapai pos pengamatan, pengunjung akan mendapatkan suatu pandangan yang indah dari kapal-kapal kayu tradisional di Sunda Kelapa, dan hamparan laut yang luas. Jika kita pandai menyelai masa kejayaan Pelabuhan Sunda Kalapa tempo dulu, maka kita pasti akan terbuai betapa majunya aktivitas perdagangan kala itu.

Gambar 13. Pemandangan dari lantai 3 Menara Syahbandar
Sumber :www.opencaching.com

Daerah potensial untuk sebuah wadah rekreasi wisata sejarah kota Jakarta, namun sayang bau amis yang sangat tajam menjadi hal yang sangat mengganggu mengungat letaknya bersebelahan dengan pasar ikan, kekurangan lain adalah pemandangan di sekitar menara yang dipenuhi limbah dan sampah membuat pengunjung tidak betah berada di sekitar kawasan menara.


Gambar 14. Pemandangan kali yang dipenuhi limbah dan bau amis yang menyengat sekitar menara yang sangat disayangkan.

Gambar kawasan dan bangunancagar budaya: berisi kondisi eksisting kawasan dan bangunan berikut ulasan arsitekturaslnya(kategori lingkungan dan bangunan pemugarannya, Langgam, fasade, elemen arsitektural yang khas, material dan warna bangunan)

II. Langgam
Gambar 15. Menara Syahbandar

Kawasan Menara Syahbandar dibangun pada tahun 1839 oleh pemerintah Belanda, gaya The Empire Style khas Eropa merupakan gaya yang dipakai pada masa itu untuk menunjukan eksistensinya di derah kekuasaannya (Indonesia) namun iklim yang berbeda menghasilkan gaya arsitek baru yang dikenal dengan gaya Hindi belanda.
Gaya arsitektur The Empire Style adalah suatu gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis, bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Di Indonesia gayanya menghasilkan gaya baru yang disebut gaya Hindia Belanda (Indonesia) artinya bergaya kolonial namun disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu (Akihary dalam Handinoto, 1996: 132). Ciri-cirinya antara lain: denah yang simetris, satu lantai dan ditutup dengan atap perisai. Karakteristik lain dari gaya ini diantaranya: terbuka, terdapat pilar di serambi depan dan belakang, terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lain. Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang. Serambi belakang seringkali digunakan sebagai ruang makan dan pada bagian belakangnya dihubungkan dengan daerah servis (Handinoto, 1996: 132-133). Gaya ini dapat pula ditemukan pada Bangunan Kawasan Menara Syahbandar, berikut ulasannya:

1. Atap
Atap pelana merupakan gaya arsitektural yang cocok untuk bangunan beriklim tropis dengan curah hujan yang tinggi. Sehingga gaya arsitek tropis pada atap pelana dipakai sebagai struktur atap bangunan kawasan ini.
Gambar 16. Atap pelana yang sering ditemukan pada rumah – rumah di Indonesia

2. Pintu
Elemen lengkung “arch” sangat menonjolkan bangunan khas Eropa pada saat itu, model lengkung yang sama juga merupakan gaya yunani. Yang diadopsi ke dalam bangunan ini. Tidak itu saja pada dinding terdapat list plank yang hadir mengesankan garis-garis tegas dan kokoh yang bergaya Eropa.

Gambar 17. Pintu terdapat tiga buah

3. Jendela
Jumlah dan letak jendela yang berirama statis dan adanya tritisan di atas jendela yang pendek
mencerminkan gaya Eropa klasik.

Gambar 18. Jendela Menara Syahbandar

Gambar 19. Salah satu Bangunan Bersejarah di Prancis

4. Warna Pada Umumnya warna pada menara syahbandar awalnya adalah putih namun setelah direnovasi di cat kuning gading, warna jendela dan dinding bagian atas menggunakan warna terang yaitu hijau dan merah menunjukan adanya pengaruh kebudayaan Betawi yang kuat dan Cina pada bangunan ini, karena pada umumnya gaya arsitektur eropa tidak menggunakan warna cerah dan terang.

Gambar 20. Warna terang mendominasi bangunan

5. Kolom 
Kolom kolom bergaya Yunani yang berkesan kokoh juga terdapat pada Bangunan

Gambar 21. Kolom pada bangunan depan Menara Syahbandar

Gambar 22. Elemen Hard material dalam kawasan

IV. USULAN PENANGANAN PELESTARIAN
Penentuan tindakan pelestarian bangunan Menara Syahbandar ini diperoleh dari penilaian dengan menggunakan kriteria makna kultural bangunan kuno. Dari penilaian tersebut diperoleh hasil sebagai berikut : 
  • Bangunan ini tergolong dalam tindakan pelestarian preservasi, yaitu pelestarian menitik beratkan pada pemeliharaan dan perlindungan orisinalitas bentuk bangunan. Bangunan yang telah dibangun disuatu tempat harus dipertahankan (dilestarikan) dalam keadaan aslinya tanpa ada perubahan dan mencegah penghancuran.

Gambar 23. Bangunan Lawang Sewu dengan Tindakan Pelestarian Preservasi 

  • Bangunan kuno tergolong dalam tindakan pelestarian konservasi, menitikberatkan pada pemeliharaan, perlindungan dan pemanfaatan fungsi bangunan guna mempertahankan keberadaan bangunan kuno.

Gambar 24. Bangunan Kuno Stasiun Tanjung Priok dengan Tindakan Pelestarian Konservasi

 Nama Kegiatan: Berdasarkan situasi dan kondisi terkini kawasan Menara Syahbandar maka nama kegiatan tersebut adalah “Pengelolaan Preservasi dan Konservasi Menara Syahbandar”. 
 Lokasi Kegiatan : Lokasi kegiatan berada di Jl. Pasar Ikan No.1, Jakarta Utara.
 Kondisi Sekarang (Input): Pada saat ini kondisi bangunan Menara Syahbandar dalam keadaan cukup baik, pada tahun 2012 Pemerintah Kota Jakarta telah melakukan program Konservasi dilakukan untuk membenahi seluruh kondisi menara yang tak terawat, termasuk pengecatan ulang pada dinding menara dan pembenahan tangga yang sudah tampak rapuh. Tetapi, konservasi ini tidak dapat membenahi kemiringan pada menara.

Gambar 25. Menara Syahbandar Sebelum Di Konservasi Cat Pintunya Berwarna Merah 

Namun konservasi hanya dilakukan pada bangunannya saja, lingkungan sekitar lokasi masih sangat memprihatinkan. Terdapat kali yang tersumbat oleh limbah dan tidak mengalir di sekitar lokasi, kali tersebut sangat merusak pemandangan dan menyebabkan polusi udara karena menimbulkan bau yang tidak sedap.

 Kondisi Yang Diinginkan Pasca Pengelolaan dan Konservasi (Output) : Dengan pengelolaan dan konservasi yang diusulkan, Sebaiknya Pemerintah Kota mulai melakukan pembersihan dan pengerukkan kali disekitar lokasi, apabila kali tersebut dibersihkan maka pemandangan dari dalam lokasi ke luar akan sangat indah dan akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke tempat bersejarah ini. Akan lebih baik bila pengunjung dapat berinteraksi dengan kali tersebut sambil menikmati pemandangan dengan memanfaatkannya sebagai tempat pemancingan dan pembuatan dermaga kecil .

Gambar 26. Contoh Pengolahan Tepian Sungai Dengan Membuat Dermaga-Dermaga Kecil

Selain itu, pada lokasi terlihat kurangnya green space, dan lebih banyak menggunakan perkerasan. Sebaiknya dibuat taman-taman kecil dan pengolahan landscape agar suasana terlihat lebih asri dan sejuk sebagai penghijauan di daerah Jakarta Utara yang berudara sangat panas. Pengolahan landscape dan peletakkan bangku-bangku taman untuk beristirahat dan menikmati pemandangan akan menarik minat pengunjung untuk berlama-lama ditempat ini.
Gambar 27. Contoh Pengolahan Landscape Sederhana Yang Didominasi Perkerasan

Gambar 28. Contoh Pengolahan Landscape dan Bangku Taman

 Selain itu sebaiknya sering dibuat acara-acara yang meningkatkan minat untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah dengan melibatkan masyarakat. Contoh yang kreatif telah nampak pada pameran video mapping 3D di museum Fatahillah Jakarta beberapa tahun lalu. Video mapping 3D, yakni suatu pertunjukan gambar bergerak, fotografi, dan desain komputer yang digabungkan menggunakan perangkat lunak dan keras lalu diproyeksikan ke gedung (Museum Fatahillah) untuk menciptakan imaji yang mengecoh mata. Video mapping 3D yang baru pertama kali digelar di Indonesia hasil kolaborasi seniman multimedia asal Inggris D-Fuse dengan sineas muda Sakti Parantean dan Adi Panuntun, fotografer Feri Latief, dan penulis Taqarrable. Dengan melibatkan kreativitas seperti itu diharapkan generasi muda juga ikut membantu menjaga bangunan peninggalan sejarah mereka dengan cara keratif mereka sendiri.

 Peluang: Lahan yang telah ada dan dapat dikembangkan sebagai sarana wisata lingkungan. Hasil pengelolaan yang diharapkan dapat membiayai operasi dan pemeliharaan lahan. Masyarakat sekitar yang haus akan hiburan mengenai bangunan bersejarah, wisata dan daerah hijau. Pemerintah Pusat atau daerah yang diharapkan dapat memberikan sebagaian anggarannya untuk kegiatan yang positif.

Rabu, 03 April 2013

menara syah bandar

Data bangunan

Gambar 1 dari google map letak Menara Syah Bandar

Lokasi: Jl. Pasar Ikan, Jakarta Utara
Fungsi awal: Menara pemantau dan kantor pabean
Fungsi saat ini: Bagian dari Museum Bahari
Konteks:
a. Gudang navigasi, di dpn menara
b. Kantor pabean, samping menara
c. Kantor perdangangan, di bgian bwah dekat tangga
d. Ruang tahanan, di bwah tanah
e. Terowongan bawah tnah ke batavia, ditutup
Ukuran: 10mx6m; tinggi 18m
Kemiringan: sekitar ke arah selatan


Latar Belakang Sejarah:
"Dari sinilah kapal yang akan berlabuh diamati dan diberi tanda", demikian tulis Adolf Heuken dalam buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta.



Gambar 2 Menara Syah Bandar

Menara Syahbandar disebut juga Uitkljk, Uitkijk Post berada di tepi barat muara Ciliwung, tepatnya terletak di Jl. Pasar Ikan No.1, Jakarta. Disebut sebagai De Uitkijk atau menara peninjau, karena menara ini memantau seluruh wilayah baik ke arah Pelabuhan Sunda Kelapa dan laut lepas di sebelah utara maupun ke arah Kota Batavia di sebelah selatannya.Sebagai bagian dari perbentengan Belanda, di sinilah letak pintu masuk lorong bawah tanah yang menuju ke Stadhuis (sekarang Museum Sejarah Jakarta) dan Benteng Frederik Hendrik (sekarang Mesjid Istiqlal). Di puncak menara terdapat jendela di empat sisi, untuk mempermudah pengawasan ke segala penjuru. Pada masanya, Menara Syahbandar pernah menjadi bangunan tertinggi di Batavia.

Menara Syahbandar tingginya 40 meter untuk mencapai puncaknya terdapat sebuah tangga khusus. Pada tahun 1839 didirikan menara baru sebagai pengganti menara yang lama. Menara ini kemudian direnovasi bersamaan dengan pemugaran bangunan gudang-gudang yang dijadikan Museum Bahari. Sebelum dipugar pernah dijadikan Kantor Komseko (Komando Sektor Kepolisian) dan pernah pula digunakan sebagai Kantor Museum Bahari.

Gambar 3 keadaan di sekeliling Menara Syah Bandar

Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai menara pengintai ini juga pernah difungsikan sebagai stasiun meteorologi.Karena dibangun di atas bangunan lain (sebagian Bastion Culemborg), pada kondisi tanah rawa yg labil, lama-kelamaan bangunan bersejarah ini menjadi miring ke arah selatan, sehingga akhirnya dikenal sebagai Menara Miring. Dahulu, apabila berada di ruang paling atas dan sedang bertiup angin kencang atau mobil melintas kencang dibawahnya, menara tersebut akan terasa bergoyang-goyang, sehingga dinamakan juga "Menara Goyang".

Bicara soal Menara Syahbandar, maka tak bisa lepas dari Bastion Culemborg. Bastion atau kubu pertahanan ini dibangun jauh lebih dulu yaitu tahun 1645 dan merupakan bagian dari tembok Kota Batavia. Culemborg tak lain nama kota kelahiran Gubernur Jenderal van Diemen (1593-1645). Di dalam kubu inilah Menara Syahbandar dibangun. Tembok tebal yang merupakan sebuah bastion itu menyatu pada tembok pertahanan Kota Batavia tempo dulu. Pada tembok kokoh itu bersandar dua buah meriam kuno masa lalu.

Keadaan saat memasukin daerah Menara Syah Bandar

Di dalam sebuah ruangan kantor dalam Menara Syahbandar dapat disaksikan sebuah peninggalan masa silam yang unik, berbentuk lempengan batu bertuliskan huruf Cina, diduga merupakan titik meridian atau titik pusat Kota Batavia. Huruf Cina tersebut berbunyi: Batas Titik. Oleh Gubernur Jakarta pada waktu itu Ali Sadikin pada 7 Juli tahun 1977 ditempatkanlah tugu nol kilometer disini hal ini dapat dilihat pada tugu peresmian yang berada di halaman. Hal ini dapat dilihat dari tulisan P126, yang merupakan titik meridian (pertemuan garis bujur dan garis lintang) Kota Jakarta. Selain itu, tugu ini juga didirikan tepat pada ketinggian 0 meter dari permukaan laut. Hal ini menyatakan
bahwa para pedagang Cina di Batavia ikut berbela-sungkawa atas meninggalnya Kaisar Pu Yi di Cina.

Gambar 4 prasasti peresmian oleh gubernur Jakarta Ali Sadikin

Di sekitar menara terdapat 3 bangunan lain, yaitu sebuah gedung yang dulunya dipakai untuk kantor urusan perdagangan, bangunan yang difungsikan sebagai gudang tepat di depan menara, dan bangunan di samping menara yang dulunya digunakan untuk urusan pabean. Ada 3 ruangan yang ada di dalam menara. Sebuah ruangan di lantai dasar, sebuah ruangan di bagian tengah, dan sebuah ruangan lagi di bagian atas. Di bagian bawah lantai dasar, terdapat ruangan yang dulunya digunakan sebagai penjara. Sesuai dengan fungsinya, di sekitar Menara Syahbandar terdapat tujuh meriam. Tiga diantaranya mengarah ke Pasar Ikan.

Gambar 5. Bagian kawasan Menara Syahbandar terdapat bangunan lain
seperti kantor urusan perdagangan pelabuhan Jakarta tempo dulu.

Menara yang lainnya memiliki ketinggian 18 meter dengan luas bangunan 10x6 meter. Pada bagian bawah terdapat ruang tahanan bagi awak kapal yang melanggar peraturan. Sedangkan pada bagian puncak terdapat ruang pengamatan yang dilengkapi dengan empat jendela. Sebagian bahan dasar bangunan terbuat dari kayu jati. Bangunan terbagi dari tiga lantai, yakni lantai dasar sebagai pintu masuk ke Menara Syahbandar, lantai dua merupakan bangunan kosong dengan lebar kurang lebih 6x7 meter, dan lantai atas merupakan tempat pengintaian.

Selain peninggalan sejarah, pemandangan di kawasan ini juga sangat indah. Apalagi, jika berada di bagian atas menara, tepatnya di ruang pengamatan. Setelah memanjat beberapa anak tangga dan mencapai pos pengamatan, pengunjung akan mendapatkan suatu pandangan yang indah dari kapal-kapal kayu tradisional di Sunda Kelapa, dan hamparan laut yang luas. Jika kita pandai menyelai masa kejayaan Pelabuhan Sunda Kalapa tempo dulu, maka kita pasti akan terbuai betapa majunya aktivitas perdagangan kala itu.

Gambar 6. Pemandangan kali yang dipenuhi limbah dan bau amis yang menyengat sekitar menara yang sangat disayangkan.

Daerah potensial untuk sebuah wadah rekreasi wisata sejarah kota Jakarta, namun sayang bau amis yang sangat tajam menjadi hal yang sangat mengganggu mengungat letaknya bersebelahan dengan pasar ikan, kekurangan lain adalah pemandangan di sekitar menara yang dipenuhi limbah dan sampah membuat pengunjung tidak betah berada di sekitar kawasan menara.


Sumber:
http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=34347
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3059/Syahbandar-Menara

Selasa, 12 Februari 2013

Kritik Biografi

Kritik Biografi Pendiri Museum TMII 


Sejarah telah mengukir dengan tinta emasnya bahwa di bukit Astana Giribangun, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 30 kilometer arah timur kota Solo, telah beristirahat selama-lamanya seorang puteri terbaik bangsa sebagai Ibu Negara, wanita pejuang dan.pejuang wanita yang selalu memajukan derajat dan karier kaum wanita. Hajjah Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah Soeharto yang dilahirkan dari keluarga kraton pada tanggal 23 Agustus 1923. Dalam perjalanan hidupnya sebagai pribadi dan sebagai Ibu Negara, menurut kesan dan pandangan saya, beliau pada hakikatnya merupakan pribadi yang ditandai dengan tujuh keteladanan.


Almarhumah telah melahirkan berbagai karya monumental yang akan dikenang sepanjang zaman. Karya-karya ini akan berbicara dari generasi ke generasi bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki seorang Ibu Negara yang berjuang bukan hanya untuk kepentingan zamannya. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah wujud nyata dari gagasan dan prakarsa beliau yang monumental. Pada tahun 1970, ketika TMII mulai dibangun ternyata mendapat berbagai tantangan. Protes berdatangan dari berbagai kalangan termasuk mahasiswa, karena dianggap menghamburkan uang negara. Tetapi sekarang TMII ternyata telah menjadi kebanggaan kita semua. Bahkan prakarsa ini telah dicontoh oleh sejumlah negara.


TMII bukan hanya bermakna pariwisata saja, namun mempunyai arti yang mendalam baik dari segi budaya maupun dari segi pendidikan. Dari segi budaya, TMII merupakan wahana pembinaan nilai-nilai budaya nasional, membina kecintaan terhadap budaya daerah sebagai bagian dari pembinaan wawasan kebangsaan. Keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang tersebar di seluruh penjuru tanah air yang dapat ditunjukkan di TMII, mencerminkan betapa kekayaan budaya yang kita miliki. Pelangi itu indah karena adanya perbedaan warna. TMII mengangkat perbedaan-perbedaan itu dalam semangat kebersamaan untuk kemajuan bangsa.
Dari segi pendidikan, TMII merupakan wahana penanaman rasa cinta tanah air, rasa kesatuan dan persatuan bangsa. Keanekaragaman f1ora dan fauna yang ada di TMII memberi informasi tentang kekayaan sumber daya alam kita. Melalui kehadiran TMII, generasi muda dan seluruh masyarakat Indonesia dapat memahami bahwa sesungguhnya Indonesia adalah negara yang besar. Secara geografis, Indonesia terdiri dari lebih 17.000 buah pulau dengan keanekaragaman hayati yang tidak terhitung.


Museum IPTEK pada Taman Mini Indonesia Indah

PP-IPTEK merupakan sarana pembelajaran luar sekolah untuk menumbuh-kembangkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di masyarakat untuk segala generasi secara MUDAH, MENGHIBUR, BERKESAN dan KREATIF; melalui berbagai program dan peragaan interaktif yang dapat disentuh dan mainkan. Melalui interaksi ini, akan dapat mendorong tumbuhnya pemikiran tentang APA, MENGAPA dan BAGAIMANA iptek digali dan dimanfaatkan bagi kehidupan manusia agar lebih nyaman dan sejahtera.


Visi dan Misi PP-IPTEK

Visi PP-IPTEK adalah menjadi wahana pembudayaan iptek yang dinamis dan berperan aktif dalam menciptakan masyarakat berbudaya iptek. Untuk itu, misi yang dijalankan adalah :
1.       Meningkatkan peran aktif sebagai “agen pembaruan” di masyarakat dalam pengembangan daya kreativitas dan inovasi
2.      Mengembangkan pembelajaran public di bidang iptek dalam mendukung program nasional
3.      Merintis pembangunan Science Centre di daerah
4.     Mengembangkan referensi nasional Science Centre di Indonesia
5.      PP-IPTEK berkomitmen untuk menjadi “titik temu” pembelajaran iptek bagi segala generasi, agar komunikasi, inspirasi dan kreativitas tumbuh bersama.



Sejarah PP-IPTEK
Pada tahun 1984 gagasan pendirian science centre di Indonesia diprakasai oleh Menristek, Prof. Dr. B.J. Habibie, dengan dibentuknya Panitia Kerja dengan SK Menistek No.15/M/Kp/IX/1984 untuk melakukan studi banding, pengkajian konsepsi dasar pembangunan, tema peragaan, system pengelolaan, serta bentuk arsitekturnya. Dibentuk Supporting Committee tahun 1987 untuk melakukan sosialisasi science centre kepada masyarakat melalui penyelenggaraan pameran fisiska dan matematika di Gedung Pengelola Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Fuad Hasan.


Pada tahun 1988-1990 dikembangkan 20 peragaan interaktif bidang IPA di Anjungan Istana Anak-Anak TMII, sebagai hasil kerjasama dengan Fakultas Pendidikan Matematika & IPA, IKIP Jakarta. Tujuannya untuk pengenalan dan studi penjajakan animo masyarakat, ternyata kesan pengunjung sangat positif dan para remaja dapat mengenal iptek dengan lebih mudah dan nyata.
Konsep awal perencanaan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) dibantu oleh US Agency for International Development dan Asia Foundation. Sesuai dengan konsep awal tersebut, Master Plan PP-IPTEK dikembangkan oleh Tim Kementerian Ristek, PT Tripanoto Sri Konsultan, Tim dari Musee de La Villete dan Sopha Development dari Perancis.


Pada tanggal 20 April 1991, PP-IPTEK diresmikan oleh Presiden Soeharto di gedung Terminal B Skylift-TMII seluas 1.000 m2. Alat peraga merupakan sumbangan dari industri strategis, IBM, serta sebagian dibuat secara in-house dengan bantuan KIM-LIPI, LUK BPPT, dan BATAN.
PP-IPTEK menempati gedung permanen pada tanggal 10 November 1995, yang berlokasi di poros utama kompleks TMII menghadap Plaza Perdamaian Monumen KTT Non-Blok. Filosofi konsep desain bangunannya futuristic, menjelajah tanpa batas, dengan luas bangunan 24.000 m2 dan luas area 42.300 m2. Sejak saat itu tersedia sarana pembelajaran iptek yang memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melihat dan mempelajari rahasia dan gejala alam yang diperagakan, mempelajari dengan menggunakan indera pendengar, pencium, dan peraba melalui manipulasi, operasi dan eksperimen. Melalui peragaan dan program, pengunjung diberi kesempatan untuk menjajagi fenomena dan khasanah iptek secara mandiri, kelompok, dan keluarga, agar memberi inspirasi dalam meningkatkan daya kretivitas dan inovasi.



Kelembagaan PP-IPTEK

PP-IPTEK berada di bawah pembinaan Kementerian Riset dan Teknologi, diatur berdasarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi RI Nomor : 10/M/PER/XII/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja PP-IPTEK. Sejak 20 Maret 2007 status PP-IPTEK ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) Penuh oleh Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 157/KMK.05/2007.
Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, PP-IPTEK dituntut secara profesional namun tidak mengutamakan keuntungan, didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Standar Pelayanan Minimum diterapkan dengan mempertimbangkan : kualitas layanan, pemerataan dan kesetaraan layanan, biaya serta kemudahan layanan. Untuk itu, sejak tahun 2007 PP-IPTEK merintis penerapan sistem management mutu Total Quality Management (TQM).
Dedikasi dan profesionalisme 100 karyawan senantiasa ditekankan dalam menentukan faktor sukses PP-IPTEK. Oleh karenanya tiap karyawan diberi kesempatan untuk dapat mengembangkan diri melalui workshop, pendidikan dan pelatihan, guna peningkatan pengetahuan, keterampilan dan profesionalisme mereka. Peningkatan pendidikan formal dan non formal menjadi salah satu focus pengembangan bagi manajemen sumberdaya manusia.


Riset Inovasi Pengembangan Peragaan dan Program

Untuk mendesain suatu alat peraga dan program sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan atau dikomunikasikan, tim pengembangan PP-IPTEK harus mengidentifikasi berbagai ide dan informasi yang dibutuhkan Dalam hal ini pengetahuan tentang komunikasi sains mutlak dibutuhkan. Misalnya, harus menggugah rasa ingin tahu, membangkitkan minat, menantang, menyenangkan, komunikatif, aman, merubah perilaku, melibatkan orang berpikir secara ilmuwan. Riset inovasi meliputi : desain dan rekayasa, system teknologi yang dipakai, pengembangan prototype, uji coba, apabila perlu dilakukan modifikasi. Setelah itu baru dilakukan proses produksi alat peraga.
Dalam hal substansi dan teknis pelaksanaan, PP-IPTEK melibatkan para pakar dan narasumber di lingkungan PP-IPTEK maupun dari lembaga litbang, universitas dan industri. Para pakar memvalidasi substansi yang dikembangkan, kemudian diuji berdasarkan pesan yang akan disampaikan dan untuk tingkatan usia. Tema yang diambil disesuaikan atau mengikuti perkembangan iptek dan isu terkini di masyarakat, sehingga secara berkala dilakukan penyesuaian dan penyempurnaan.

Kegiatan di PP-IPTEK

Sebagai suatu science center, kompetensi utama PP-IPTEK menyajikan berbagai alat peraga interaktif yang dapat dimainkan untuk merangsang keingin-tahuan pengunjung akan fenomena iptek yang terjadi. Galeri berisi sekitar 300 alat peraga yang dikelompokkan menjadi 14 wahana : antariksa, lingkungan, energi, fluida, gelombang, listrik dan magnet, mekanika, optic, transportasi darat, transportasi udara, arena peneliti cilik, matematika, penyakit dan kesehatan, galeri Plato.


Pengunjung diajak menjelajahi iptek dengan metoda pembelajaran discovery learning, yakni mencari sendiri pengetahuan yang dibutuhkan dengan cara berinteraksi, bermain sambil belajar dengan alat peraga. Selain peragaan indoor, dikembangkan pula peragaan outdoor, yaitu Taman Herbal, yang akan dibuka pada tahun 2010. Untuk melengkapi alat peraga interaktif, PP-IPTEK mengembangkan berbagai program pendukung khusus bagi siswa, pendidik dan keluarga, guna memperkuat pemahaman pengunjung dan pengkayaan sains serta melengkapi kurikulum sekolah. Kegiatannya a.l.: demo sains, demo sains spektakuler, workshop dan demo roket air, workshop dan demo robot, workshop skill process, let’s play science, science film, sanggar kerja, kegiatan tematik, science camp, science party, science fair, stargazing, peragaan iptek keliling, dll. Kegiatan dapat dilakukan pula di pusat keramaian, mall, pameran, sekolah, dan daerah.


Pendidik mempunyai tanggung jawab luhur dalam mentransformasikan iptek kepada siswa, maka peningkatan kompetensi pengetahuan dan profesionalisme perlu diasah terus-menerus. Untuk itu PP-IPTEK menyelenggarakan program pengkayaan iptek khusus bagi guru MIPA dalam bentuk workshop dan seminar.


PP-IPTEK juga menyelenggarakan dan menjadi fasilitator berbagai kompetisi bagi generasi muda, serta merupakan arena pentas kreativitas. Hal ini perlu digaris-bawahi mengingat karakter generasi muda yang selalu ingin tahu dan perlu ditantang kreativitas dan kemampuannya, agar dapat lebih mengembangkan diri seoptimal mungkin. Karena PP-IPTEK merupakan ajang kreativitas, maka kompetisi yang diselenggarakan bernuansa unik, istimewa, lain dari kompetisi umumnya. Unsur seni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari iptek, untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Selain itu, PP-IPTEK juga menjadi fasilitator bagi forum remaja dan kompetisi tingkat internasional, a.l. 5th World Creativity Festival di Daejeon – Korea.


KERJASAMA PP-IPTEK DENGAN BERBAGAI PIHAK TAHUN 2009

Lembaga Penelitian dan Pengembangan :
LAPAN, BATAN, BAKOSURTANAL, LIPI da BSN dalam Program Binokuler (Bincang-bincang Sains & Teknologi Populer).
BTC-Network KRT dalam Workshop Marketing, Promotion, Distribution & Customer.
Kementerian Ristek dalam : Science for All, Ritech Expo 2009, Wisata Iptek dan Temu Pakar di Pekanbaru, Binokuler di Semarang, kontribusi alat peraga Volcanopedia Magic Box untuk pembelajaran gunung berapi.
 LAPAN dalam kompetisi roket air tingkat daerah, nasional dan Asia Pasifik.
LIPI dalam National Young Innovator Awards (NYIA) – 2 dan peragaan Wallacea.
Bakosurtanal dalam Workshop Mapping Technology Learning bagi siswa, guru dan masyarakat, di Jakarta dan Semarang.

Lembaga Pemerintah dan Departemen :
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah dalam Jambore Iptek di Semarang.
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau dalam Peragaan Iptek keliling di Pekanbaru.
Direktorat Pendidikan Luar Biasa Depdiknas dalam : Oliampiade Sains Nasional bagi siswa berkebutuhan khusus, Cerdas Cermat MIPA bagi siswa SMA cerdas istimewa, program Sains Interaktif cerdas istimewa, program beasiswa siswa cerdas istimewa di Korea Science Academy, 5th World Creativity Festival di Daejeon.

Universitas dan Perguruan Tinggi :
Observatorium Bosscha dalam peneropongan gerhana matahari cincin.
Departemen Fisika ITB dalam BINOKULER.
Fakultas MIPA Universitas Parahyangan dalam : workshop Ma-the-matrick, workshop Science of Toys.

Industri dan Lembaga Lain :
Klub Robotik G-Com Teknologi dan Fischertechnic dalam Megabazar Imagine 2009.
Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (FOSIPA) dalam gathering bagi travel agent di Jogyakarta.
Sanggar Opera Anak Pustaka Lebah dalam mengisi acara pementasan “the Tale of Missing Unicorn” di Keong Emas TMII, Istora Senayan, Taman Wisata Mekarsari Cileungsi.
Astra Honda Motor dalam BINOKULER.
PT Kalbe Nutritionals dalam kick off CSR.
Margo City Mall di Depok dalam expo sains “the Place to be Smart”.
PT Microsoft Indonesia dalam kontribusi alat peraga Worldwide Telescope (WWT) untuk pembelajaran bidang astronomi.
Majalah Bobo – Kompas Gramedia Group dalam 7th Bobo Fair 2009 di Jakarta Convention Center.
The Wallacea Foundation dan LIPI dalam Peragaan Wallacea.
Pusdiklat PT Krakatau Steel dan Yayasan Pendidikan Warga Krakatau Steel dalam Peragaan Iptek Keliling di Cilegon, workshop Skill Process bagi guru.
PT Dexa Medica dalam pengembangan Taman Herbal PP-IPTEK. 
Kerjasama Internasional :
UNICEF dalam penyelenggaraan Peragaan Iptek Keliling di Ambon.
Australia dalam : pameran kebudayaan Aborigin, Australia Indonesia institute Conference, International Cultural Visit, Australian Young Ambassadors for Development, Australia Leadership Awards Fellowship, Strike a Chord – Science of Music Exhibit, berbagai internasional expo.
Korea dalam : ASEAN COST Plus Three Center for the Gifted in Science, 5th World Creativity Festival, Students Camp and Teachers Training, Korea Science Academy Fellowship.
GTZ Jerman dalam pengembangan klaster Flu Burung di PP-IPTEK.
Anggota pada the Asia Pacific Network of Science and Technology Centers (ASPAC).
Anggota pada the Association of Science – Technology Centers (ASTC).